Rabu, 23 Maret 2011

Arti Cinta

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.

Rabu, 16 Maret 2011

Tak Pernah Berlalu

Mungkin aku memang lemah
Mungkin aku tak pernah punyai lelah
Saat ku terdiam menangisi pergimu
Terus ku terpaku oleh harapan semu

Sepertinya… t’lah cukup banyak kutulis
T’lah cukup dalam hati ini kuiris
Agar bisa kucoba lagi cinta dari mula
Dengan ia yang mampu merasakannya

Namun cinta untukmu terus bertahan
Di sekeping sisa hati ini pun cinta untukmu kurasakan
Kerinduan hadirmu tak pernah bisa hilang
Oh Tuhan… bagaimana semua ini harus kuartikan ?

Jika Saja Engkau Bukan Manusia

503… (Lima Nol Tiga)
Aku menelponmu dan kau tak menjawabnya

403… (Empat Nol Tiga)
Kudatangi rumahmu dan tak seorangpun berkata engkau ada

405… (Empat Nol Lima)
Kutanya namun tak seorangpun orang rumahmu menjawabnya

500… (Lima Ratus)
Adakah engkau ingin kita berdua putus ?

206… (Dua Nol Enam)
Sebab dulu kau hanya mencintaiku di sebagian
hatimu

302… (Tiga Nol Dua)
Saat denganku engkau mencintaiku, saat dengannya aku engkau lupakan

301… (Tiga Nol Satu)
Dan kini rayuannya membuatmu benar-benar melupakanku

404… (Empat Nol Empat)
Hingga tak ada lagi tempat
Di hatimu untukku

Selalu Ada Rencana Indah Untukmu

Sang Kuasa selalu punya rencana indah untuk kita umatNya
Sesekali langsung membahagiakan hati…
Terkadang sejenak bertentangan dengan harap
Kau hanya perlu mensyukuri dan merenungi

Usah kau terus mempertanyakan, buang semua logika
Berdoalah senantiasa… dan syukuri baik buruk yang kau rasa
Saat kau berniat baik dan meminta yang terbaik, itulah yang kan Dia beri
Terkadang seketika… seringkali harus lalui hari yang menguji hati

Selalu ada rencana indah untukmu
Walau seringkali kau melupakanNya
Selalu ada rencana indah bagimu
Jika kau terus meminta padaNya

Rindu Puisi

Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat

Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi

Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat

Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali

Letih

Letih… ku berdiri di bawah terik mentari
Semenjak engkau melangkah menjauh pergi
Hingga rambut ini mulai memutih
Masih… tak kutemui engkau kembali

Letih… hanya saja raga ini b’lumlah mati
Hingga jiwa terus saja meminta tuk menunggumu disini
Sampai engkau hadir…
Sampai larut penantian menjadi bagian dari takdir

Seperti

Seperti kapas yang tumbuh di taman hati
Cinta ini begitu putih dan tulus suci
Di semua janji-janji yang mendengung abadi
Namun mudah ternoda disetiap emosi
Tapi bisa menyerap semua tangis sedih
Hingga terbang ditiup angin kecil

Layaknya Seorang Bocah

Selayaknya seorang bocah
Yang tak pernah mengenal lelah
Mencoba-mencoba-dan terus mencoba
Hingga akhirnya ia bisa dan terbiasa

Selayaknya seorang bocah
Yang tak kenal kata menyerah
Jatuh berdiri – jatuh berdiri – tak surut asa
Lupakan luka, tertawa bangga ketika akhirnya bisa

Selayaknya seorang bocah
Harusnya seperti itulah kita
Sebab kita memang dulunya pun iya
Harusnya asa bertambah seiring usia

Imajinasi

Imajinasi itu…
Sesuatu yang terlihat sekalipun gelap
Sesuatu yang terdengar sekalipun tak terucap
Sesuatu yang tersentuh sekalipun tak bersentuhan
Suatu tempat yang belum pernah dikunjungi

Bukan Keinginan

Aku tidak pernah ingin… terlalu mengenalmu
Aku juga tidak pernah ingin…terlalu menyayangimu
Aku hanya mencoba tuk terus mengenalmu ataupun sayangimu
Sama sekali ku tak ingin, semuanya menjadi terlalu

Aku tak pernah ingin…terus menangis ratapi kepergianmu
Aku juga tak pernah ingin…terus mengharap kembalimu
Aku hanya biarkan hatiku berbicara tentang apa yang ada
Saat ini…semua terjadi di luar keinginanku

Mungkin…tak selayaknya lelaki menangis
Tapi tetap saja airmata menetes meski kutahan
Setiap aku terbayang akan dirimu

Bukan Keinginan

Aku tidak pernah ingin… terlalu mengenalmu
Aku juga tidak pernah ingin…terlalu menyayangimu
Aku hanya mencoba tuk terus mengenalmu ataupun sayangimu
Sama sekali ku tak ingin, semuanya menjadi terlalu

Aku tak pernah ingin…terus menangis ratapi kepergianmu
Aku juga tak pernah ingin…terus mengharap kembalimu
Aku hanya biarkan hatiku berbicara tentang apa yang ada
Saat ini…semua terjadi di luar keinginanku

Mungkin…tak selayaknya lelaki menangis
Tapi tetap saja airmata menetes meski kutahan
Setiap aku terbayang akan dirimu

Cobalah Relakan

Ketika lirih kudengar suaramu
Sesenggukan terisak tangis
Tahukah kamu bahwa ku disini juga menangis ?
Hatiku teriris…

Ketika pelan kudengar kau merasa sendiri
Tak ada satupun yang peduli
Aku merasa menjadi orang tak berarti
Untuk siapa aku disini ?

Ketika kau berpikir …
Bahwa hidupmu waktunya berakhir
Aku mengerti semuanya tak abadi
Tapi bukan kita penentu hidup ini

Sebenarnya

setiap orang memang harus memetik atas apa yang sudah dilakukannya
sebab akibat tak pernah mengenal apa itu khilaf
dan maaf tak pernah bisa menghapus sesuatu yang sudah berbekas
pikirkanlah hitam, maka aku adalah semua hitam yang melebihi hitam
lalu pikirkanlah putih, maka kau akan bilang tak ada putih itu di aku

mungkin memang sudah terlalu lama aku bisa membuatmu bangga
di saat terakhir ku hanya bergelimang kesalahan, membuatmu derita
hingga tanpa sadar aku mulai sepakat denganmu bahwa putih itu tak ada
hanya hitam yang setia dan mungkin hingga akhir usia tak seberapa

lepaskan sejenak pikiranmu, lupakan aku yang kini kau bentuk
lihat aku ! melewati batas hitam putih kelabu warnamu
sehitamnya kau tak mampu, ku tetap miliki perasaan di kalbu
Andai saja kau mau tahu…, itu tak berbatas egomu

Cinta Sejati

Perpisahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan hidup. Semua harus tetap berjalan, tak peduli penuh penyesalan dan kesedihan. Mungkin aku menanti, mungkin cinta telah mati, atau mungkin cinta sejati, tapi saat sendiri kehidupan harus terus dijalani dengan sepenuh hati.

Undangan itu, bukan berarti ku tak lagi mencintaimu. Bukan pula berarti ku tak mencintai dengan ia yang inisial namanya dirangkai dengan inisial namaku. Dulu pun aku tak mengerti, bahwa cinta sejati bisa tetap tersimpan, sambil terus berjalan menyongsong masa depan.

Pada akhirnya, cinta sejati hanya dapat dirasakan oleh yang mengalami. Sebab hati punya kita sendiri, sebab hidup harus terus dijalani.

Pencarian Pasangan Hidup

Pernah ku membenci waktu dan jarak
Saat ingin tertanam kuat di hati
Saat rindu melayang jauh di langit biru
Aku tak mampu beranjak tuk menggapainya!

Pernah ku bertanya dalam diri, apa yang kucari?
Mengapa semua berat ini kujalani?
Sedang lemah dan ego terus menghantui
“Pasangan hidup”,…jawab hati

Sampai Jumpa

satu kecup perpisahan
di batas perjumpaan siang tadi
hadirkan kenangan
satu kisah esok nanti

di sedikit waktu
dan terbatasnya ruang bertemu
perlahan kita tancapkan arti
begitu mendalam dalam hati

Puisi 8 Oktober 2003

Di dirimu kutanamkan bunga harapan
Kebahagiaan hidupku dan kaupun menyiraminya
Hingga 9 bulan merekah
Hampir saja kupercaya bahwa tak ada lagi sedih tersisa
Dari sang Penguasa untukku

Hingga di hari itu ‘sedih’ datang lagi untukku
Mematikan bunga harapan kebahagiaan
Yang t’lah 9 bulan tertanam
Kulupa bahwa bunga hanya merekah sesaat
Dan kemudian pasti kan mati

Ingin saja segera kumenghadapnya
Memprotesnya ! mengapa tak berikan hidup adil
Untukku ?
Mengapa hanya ada bunga bangkai untukku ?
Sementara lainnya bisa menjadi ceria.

Sepenggal Waktu Tersisa

Tertunduk sedih ia. Hanya terdiam renungkan semuanya. Sedih dijiwanya begitu terasa ketika tiba-tiba jiwanya menyadari bahwa jiwanya bukanlah berada pada jasad yang tepat tuk mengungkapkan atau menunjukkan tentang apa yang dirasa oleh jiwanya. Lingkungan dunia dimana ia tinggal, telah disadarinya, sama sekali tak bersahabat pada apa yang namanya ‘cinta’ jika itu harus diungkapkan oleh jiwa-jiwa yang berjasadkan hawa.

Lama jiwanya tenggelam dalam diam. Masih bingung harus bagaimana dalam dunia yang begitu diskriminatif ini. Mungkin juga ia bertanya dalam hati, “Mengapa cinta hanya tuk diungkapkan oleh jiwa-jiwa yang berjasadkan adam?”, aku tak mengerti, yang aku mengerti, dunia yang diskriminatif bagi hawa ini, nyaris membuatku gagal ciptakan lagi kehidupan cinta di relung hatiku, ketika jiwa yang aku cintai, ternyata juga mencintaiku, namun ia menyadarinya lebih dulu dan lalu ia terdiam dalam galau, bingung dan sedih karena keterbatasan kodrati yang ada pada jiwanya.

Meski kini, jiwaku dan jiwanya sudah menyatu, namun hawa dingin t’lah sempat aliri jiwaku ketika sadari bahwa sepenggal waktu tersisa kan habis dalam kejapan mata. Untung saja, Sang Pemilik Jiwaku dan Jiwanya, memberikan lingkaran waktu yang baru bagi dua jiwa ini tuk menyatu, meski waktu datang (lingkaran waktu) ketika dua jiwa ini t’lah terpisah dalam ruang. Tak mengapa, biar jiwaku dan jiwanya belajar artikan ini semua dan bisa buat indah kehidupan cinta dihati jiwa-jiwa ini (ku dan nya) tak hanya tuk sesaat namun sampai akhir hayat.

Mengimajimu

Dalam gelap malam
Terdiam kumembayangkan
Andai saja kau disini
Menemaniku yang sendiri

Walau hanya imaji
Sedikitnya kubahagia
Meski hanya khayalku saja
Biarku hanyut dalam suasana

Segar udara pagi
Terdekap hangat pelukan
Tak ingin kulepas
Walau kutau ini mimpi

Dirimu…selalu hadir setiap hari
Dalam setiap langkah cinta berpijak
Bangkitkan semangat
Tuk segera satukan hidup kita

Ingin Aku

Ingin aku berteriak pada langit
Tapi aku takut, langit tak mendengarku
Ingin aku berbisik pada angin
Tapi aku takut, bisikanku terbang entah kemana

Kerinduan Abadi

Mencoba lepaskan beban
Kutulis sebait lagu tentang kerinduan
Terpendam dibatas jarak yang memisahkan
Jujur ingin aku bertemu

Mencoba lukiskan bayang
Selintas wajah gadis yang kurindukan
Di awan kugoreskan imaji dan bisikkan
Tetap setia padaku

Betapa berarti
Sesaat pertemuan kita
Obati rindu sekian waktu lamanya
Hanya hati
Setia pada cinta dijiwa
Kan membawa ini jadi selamanya